Malam
itu seperti biasa, Angel berniat tidur di kamar tidurnya. Tetapi ia sungguh tak
bisa tidur, bayangan seorang lelaki sedari tadi melumat orbit khayalannya,
membuat matanya tak mampu tekatup. Rumah besar tempat ia tinggal itu terasa
sepi sekali. Sudah lebih dari dua belas jam ini Angel tak bisa membuang aku
dari ingatannya dikarenakan kejadian tadi pagi serasa menyudutkan mata hati
siapapun yang terikat pada roda-roda masalah dan tentu saja ketika hujan pagi
menaungi aku dan Angel.
Angel,
wanita yang begitu kupuja terdeskripsi bagai malaikat, kini tampak menakutkan.
Kantung matanya yang kantuk dengan warna memar menjelaskan betapa ia tak
sanggup menahan beban itu sendiri. Entah apa yang dipikirkannya, hanphone
digenggamannya terus diotak-atik mencoba memanggil ke nomorku. Namun tak aktif.
Matanya mulai nanar hampir tak berekspresi memandang ke langit-langit kamarnya.Kini
ketika matanya tak juga mampu terpejam, ia menyesal tak memilih jalan yang
kuucapkan. Menyesal karena dirinya terlalu ragu-ragu bertindak.
Tak
cukup lima belas kilometer jauhnya dari kamar tidur Angel, aku sedang terbaring
di rerumputan menengadah jauh pada kegelapan. Akupun tak bisa melakukan
apa-apa. Entah kenapa saat ini aku juga sangat merindukan Angel, bahkan aku
bagai kehilangan dirinya. Hhh Tuhan sedang apa dia sekarang ?Aku meredupkan
rasa dan menutup rapat kegalauanku. Sejenak kuingat Angel yang tadi pagi
bersama raungan dan rontaan tak berdayanya.
Malam
kini bagai tak peduli, tetap dengan kelam dan dingin disertai desir angin
bersiut. Langit sesekali berkejap oleh kilat di kejauhan. Awan hitam berarak
menutupi cahaya bulan, mencegah raja malam itu menerangi muka bumi. Pohon-pohon
bagai tidur sambil berdiri terayun-ayun oleh angin. Sebentar kemudian hujan
mulai turun lagi. Mula-mula hanya berupa rintik kecil lalu dengan cepat semakin
lebat. Bahkan kemudian sangat lebat seperti hujan tadi pagi.
Seakan
tak peduli, aku masih tergeletak lunglai. Angel pun masih belum tertidur. Kami
berdua terpisah oleh tembok, halaman
batu, sungai kecil yang mulai mengalir deras, jalan raya yang licin dan
sebagainya. Tapi, kami berdua satu dalam rasa. Bertemu dalam imajinasi kasih
yang menggelegak membara. Kemudian Angel bangkit berniat mematikan lampu
kamarnya. Seketika ia terkejut, lalu tersenyum haru melihatku telah berdiri di
dekat jendela kamarnya. Diraihnya tubuhku yang masih basah karena air hujan, ia
menangis sejadinya pada pelukanku. Kini kami berdua bagai pemenang pada melam
kejam. Tak peduli pada hujan yang terus menitik di loteng serta kilat yang
menusuk daun pepohonan.
Sewaktu
telah berlalu ketika Angel tiba-tiba terhentak menyadari diriku dalam keadaan
basah kuyup. Dibalikkan badan mungilnya itu berlari masuk pada ruang
pakaiannya. wajahnya tampak begitu bahagia bahkan harus memilih pakaian hangat
yang pas untukku. Sudah dua menit berlalu diketemukannya baju tebal berwarna
hijau tua dengan kain penghangat pada kerah dan lengannya. Angel berlari
kembali ke ruang tidurnya tapi, yang didapatinya hanya jendela basah diiringi
kilatan langit dari luar. Terlihat ruangan masih sepi seperti tadi, ia tau tak mungkin
ada orang yang bisa memanjat masuk kejendelanya yang tinggi itu. Angel lalu terduduk di lantai. Ia baru sadar
kalau aku sebenarnya memang sudah mati, sudah tak ada lagi diriku yang bisa dia
tatap. Aku telah pergi jauh dan tak kembali. Terpisah oleh keadaan dan waktu.
Teringat
kejadian tadi pagi, ketika Ayahnya menembaki kepalaku dengan pistol revolver putihnya
dan membiarkan jasadku berlumuran darah di tempat sesepi ini. Angel pasti sulit
menerima, tapi sungguh aku tak pernah punya niat menyalahkan dirinya pada
kematianku. Ia hanya wanita yang tak bisa berbuat banyak. Namun, aku tau bahwa Angel
punya rasa yang mendalam padaku. Membuat
jasadku tenang, dengan keyakinan suatu saat
kami pasti bersama lagi. ***
Sesaat kami terdiam ketika roh baru
itu mengakhiri ceritanya. Ia sungguh tampak jujur tanpa sedikitpun niat untuk
melebih-lebihkan kisahnya. Jadi haruskah aku tidak percaya?
Tuhan
pasti Maha Tahu, ia kemudian berlalu pergi dari wajahku diiringi roh baru yang tiba
pada singgasana nirwana ini. Kelihatannya wanita yang satu ini frustasi tampak
dari goresan pisau pada lengannya. Kami lalu membiarkannya pergi tanpa
menyuruhnya menjawab beberapa pertanyaan. Ku tatap dirinya dari jauh “hhh
mereka memang akan selalu bersama” dan begitupun dengan cerita bodoh ini, yang
terkisah teriring bumi yang setiap saat selalu basah karena desahan hujan.




