Senin, 19 Maret 2012

H u j a n



            Malam itu seperti biasa, Angel berniat tidur di kamar tidurnya. Tetapi ia sungguh tak bisa tidur, bayangan seorang lelaki sedari tadi melumat orbit khayalannya, membuat matanya tak mampu tekatup. Rumah besar tempat ia tinggal itu terasa sepi sekali. Sudah lebih dari dua belas jam ini Angel tak bisa membuang aku dari ingatannya dikarenakan kejadian tadi pagi serasa menyudutkan mata hati siapapun yang terikat pada roda-roda masalah dan tentu saja ketika hujan pagi menaungi aku dan Angel.
            Angel, wanita yang begitu kupuja terdeskripsi bagai malaikat, kini tampak menakutkan. Kantung matanya yang kantuk dengan warna memar menjelaskan betapa ia tak sanggup menahan beban itu sendiri. Entah apa yang dipikirkannya, hanphone digenggamannya terus diotak-atik mencoba memanggil ke nomorku. Namun tak aktif. Matanya mulai nanar hampir tak berekspresi memandang ke langit-langit kamarnya.Kini ketika matanya tak juga mampu terpejam, ia menyesal tak memilih jalan yang kuucapkan. Menyesal karena dirinya terlalu ragu-ragu bertindak.
Tak cukup lima belas kilometer jauhnya dari kamar tidur Angel, aku sedang terbaring di rerumputan menengadah jauh pada kegelapan. Akupun tak bisa melakukan apa-apa. Entah kenapa saat ini aku juga sangat merindukan Angel, bahkan aku bagai kehilangan dirinya. Hhh Tuhan sedang apa dia sekarang ?Aku meredupkan rasa dan menutup rapat kegalauanku. Sejenak kuingat Angel yang tadi pagi bersama raungan dan rontaan tak berdayanya.
Malam kini bagai tak peduli, tetap dengan kelam dan dingin disertai desir angin bersiut. Langit sesekali berkejap oleh kilat di kejauhan. Awan hitam berarak menutupi cahaya bulan, mencegah raja malam itu menerangi muka bumi. Pohon-pohon bagai tidur sambil berdiri terayun-ayun oleh angin. Sebentar kemudian hujan mulai turun lagi. Mula-mula hanya berupa rintik kecil lalu dengan cepat semakin lebat. Bahkan kemudian sangat lebat seperti hujan tadi pagi.
Seakan tak peduli, aku masih tergeletak lunglai. Angel pun masih belum tertidur. Kami berdua terpisah oleh  tembok, halaman batu, sungai kecil yang mulai mengalir deras, jalan raya yang licin dan sebagainya. Tapi, kami berdua satu dalam rasa. Bertemu dalam imajinasi kasih yang menggelegak membara. Kemudian Angel bangkit berniat mematikan lampu kamarnya. Seketika ia terkejut, lalu tersenyum haru melihatku telah berdiri di dekat jendela kamarnya. Diraihnya tubuhku yang masih basah karena air hujan, ia menangis sejadinya pada pelukanku. Kini kami berdua bagai pemenang pada melam kejam. Tak peduli pada hujan yang terus menitik di loteng serta kilat yang menusuk daun pepohonan.
Sewaktu telah berlalu ketika Angel tiba-tiba terhentak menyadari diriku dalam keadaan basah kuyup. Dibalikkan badan mungilnya itu berlari masuk pada ruang pakaiannya. wajahnya tampak begitu bahagia bahkan harus memilih pakaian hangat yang pas untukku. Sudah dua menit berlalu diketemukannya baju tebal berwarna hijau tua dengan kain penghangat pada kerah dan lengannya. Angel berlari kembali ke ruang tidurnya tapi, yang didapatinya hanya jendela basah diiringi kilatan langit dari luar. Terlihat ruangan masih sepi seperti tadi, ia tau tak mungkin ada orang yang bisa memanjat masuk kejendelanya yang tinggi itu.  Angel lalu terduduk di lantai. Ia baru sadar kalau aku sebenarnya memang sudah mati, sudah tak ada lagi diriku yang bisa dia tatap. Aku telah pergi jauh dan tak kembali. Terpisah oleh keadaan dan waktu.
Teringat kejadian tadi pagi, ketika Ayahnya menembaki kepalaku dengan pistol revolver putihnya dan membiarkan jasadku berlumuran darah di tempat sesepi ini. Angel pasti sulit menerima, tapi sungguh aku tak pernah punya niat menyalahkan dirinya pada kematianku. Ia hanya wanita yang tak bisa berbuat banyak. Namun, aku tau bahwa Angel punya rasa yang mendalam padaku.  Membuat jasadku tenang, dengan keyakinan suatu saat  kami pasti bersama lagi. ***
Sesaat kami terdiam ketika roh baru itu mengakhiri ceritanya. Ia sungguh tampak jujur tanpa sedikitpun niat untuk melebih-lebihkan kisahnya. Jadi haruskah aku tidak percaya?
Tuhan pasti Maha Tahu, ia kemudian berlalu pergi dari wajahku diiringi roh baru yang tiba pada singgasana nirwana ini. Kelihatannya wanita yang satu ini frustasi tampak dari goresan pisau pada lengannya. Kami lalu membiarkannya pergi tanpa menyuruhnya menjawab beberapa pertanyaan. Ku tatap dirinya dari jauh “hhh mereka memang akan selalu bersama” dan begitupun dengan cerita bodoh ini, yang terkisah teriring bumi yang setiap saat selalu basah karena desahan hujan.
            

Jumat, 16 Maret 2012

CERMIN



Ketika tertulis keadaannya sudah mau mati
Diriku seorang diri
Seperti bertemu cermin
Ku sebut ini kanan, cermin itu berucap kiri
Selelahnya desah nafasku menghembus
Kanan yang ku sebut tetap dia anggap kiri

Ya, diriku hanya mencumbu cermin
Ketika kebenaran terus berucap
Mata sakit ini ada di bagian kiri!
Telinga yang teriris ini ada di kanan!
Kenapa kau tak tunjukkan saja!

Entahlah” Katanya

Berapapun frasa yang terbuang
Tak mampu membantah pernyataan yang ku sebut “Sia-sia”
Ialah semaunya lahir dari kumpulan kegagalan
Walau begitu, cermin masih mengucap ketidak benaran
Sampai bayang-bayang pun marah

Batu kecil yang tadi kulempar
Bertengger di permukaan cermin
Pecahlah ia, berserakan!
Tapi masih saja begitu, yang kanan disebutnya kiri
Diriku memang tak memahami

Tapi hanya dengan menatap cermin
Jawaban siapa diriku sebenarnya
Bisa ku temukan
 “Mengharukan….Aku suka ceritamu, tapi kau masih perlu belajar”
Kataku pada penyair muda tersebut, lalu berniat pergi
“cermin itu bagiku adalah teman hidup satu-satunya, takkan berhenti menatapnya”

Lalu ku biarkan diriku menghilang di garis mata penyair itu
Pergi bersama hembusan debu padang pasir    



Kamis, 15 Maret 2012

Monalisa dan Mimpiku


       Dengan sangat hati-hati kudekati sebuah selendang yang tergelatak di hadapanku, tiba-tiba dari belakang seorang wanita menepuk pundakku sambil mengulur tangan meminta selendang itu, tentu saja aku sangat kaget dan......KRINGGGG....Aku terbangun dari tidurku yang menjengkelkan, huh untung itu hanya mimpi. Pagi itu aku bergegas untuk ke sekolah seperti bisaa, saat keluar dari kamar untuk mandi, ternyata ada yang aneh tidak bisaanya ibu bangun lama, dan hampir tak ada suara pagi itu. Tak ada lagi suara piring yang diangkat ke meja makan, atau suara tangis adikku yang menyebalkan.

            Setelah berpakaian rapi aku pun siap ke sekolah. Seperti bisaa juga aku menuggu bus di halte hanya saja keadaannya aneh lagi semua orang yang ada disana hanya tunduk duduk membaca koran, bahkan kakek tua yang sering membersihkan pinggir jalan pun ikut diam dan duduk membaca koran. Karena penasaran aku hampiri koran yang ada dikursi halte ternyata hanya berita tentang sebuah lukisan wanita terbaik karya da vinci ”Monalisa” aku sempat berpikir padahal lukisan ini sudah lama tapi masih saja tetap yang terbaik, saat kuperhatikan gambar lukisan itu, ternyata itu wanita yang sama dalam mimpiku. Tak selang beberapa waktu sebuah bus berhenti dihadapanku, aku acuhkan saja koran itu lalu bergegas naik ke bus tersebut takut terlembat ke sekolah. Sampai di atas bus aku duduk dikursi paling belakang, dan lebih anehnya lagi semua orang yang ada di atas adalah seorang wanita yang berpakaian sama dan memegang sebuah selendang, aku sempat takut. Kucoba untuk berpikir tenang, mungkin itu hanyalah ibu-ibu pengajian yang sedang mengadakan wisata.

            Setelah sampai di sekolah ternyata keadaannya juga aneh sangat hening, saat itu aku khawatir mungkin aku terlambat, saat turun dari bus tersebut semua bangunan sekolah hancur serta bangunan-bangunan disekitarnya telah rata dengan tanah sangat berbeda dengan yang kulihat dikaca bus tadi. Dengan gemetar aku berbalik untuk naik ke bus itu lagi, tapi bus tersebut tiba-tiba saja menghilang, terlihat dari reruntuhan bangunan sekolah seorang wanita berdiri mencari sesuatu. Dengan sisa keberanian kusapa wanita tersebut, ternyata dia mendengarku dan berbalik tersenyum padaku tetapi yang anehnya lagi wanita itu sama dengan yang dimimpiku dan yang dikoran tadi. Bulu romaku merinding, saat berbalik ingin meninggalkan tempat itu terlihat sebuah selendang hitam tergeletak di atas bongkahan batu. Dengan sangat hati-hati kudekati selendang tersebut, tiba-tiba dari belakang seorang wanita menepuk pundakku sambil mengulur tangan meminta selendang itu, tentu saja aku sangat kaget dan......KRINGGGG....dengan nafas terengah-engah aku terbangun dari tidurku, ternyata itupun adalah sebuah mimpi.  akhirnya aku terbangun dari mimpi menyeramkan itu, tapi tetap saja aneh dari luar kamar pun masih tak ada suara piring yang diangkat ibu ke meja makan, serta suara tangisan adik yang menyebalkan. Saat kulihat jam ternyata sekarang masih tengah malam..... aku yang sangat ketakutan mencoba menenangkan diri, berusaha untuk tidak menoleh keluar jendela. Setelah itu aku berdoa dan kembali tidur yang membuatku bertanya adalah siapa yang mengatur jamku berbunyi tengah malam begini, sedikit pun aku tak pernah melakukan itu, dan sekarang makin aneh di dekat tempat aku tidur, sebuah selendang tertata dengan rapi, karena kaget kulempar selendang itu kesudut kamar, dan KRINGGG....... huh menyebalkan ternyata aku bermimpi lagi. Aku mengacuhkan saja semua yang telah terjadi dan yang tak terjadi seperti hari bisaa. Aku hanya berpikir sampai kapan mimpiku ini berakhir, atau aku adalah orang yang hanya hidup di dalam mimpi,,..,., di dalam sesuatu yang tak terwujud............. 





Rabu, 14 Maret 2012

Kertas Kosong



Kertas kosong di atas meja
Mencatat takdirnya
Ia tau, ia hanya kertas bisaa
Dengan noda-noda di tubuhnya





Kertas kosong di atas meja
Mencintai dunia
Ingin rasanya menjadi angin
Ingin rasanya lepas dari kebodohan

Ingin pergi

Tapi ia tau takdirnya
Ia hanya kertas bisaa
Dengan noda-noda di tubuhnya



By. Alhym

Tangan-Tangan kasar




Bukankah cinta itu api?
Jika ia
Maka padamlah

Anak perempuan itu
Membiarkan saja
Tangn-tangan kasar
Merogoh setiap sakunya
Menyentuh dirinya

Tapi anak perempuan itu hanya terdiam
Karena ia tau
Tangan-tangan kasar itu
Takkan mendapatkan apa-apa
Kecuali korek api…

KALEIDIOSKOP MAWAR PUTIH

writer

Telah habis kucatat tulisan senja
Susunannya tidaklah sempurna
Sajak-sajak yang salah memanggang kata
Di rangkaian mawar putih

Telah habis kulukis langit malam
Adalah angin yang membuatnya dingin
Kabut pula yang membuatnya remang
Rencana yang sia-sia
Di kaleidoskop mawar putih

Terowongan senja
Menuju ruang-ruang malam
Tulisan-tulisan di kaleidioskop lukisan
Mawar putih menanti rangkaian rencana pagi