Jumat, 16 Maret 2012

CERMIN



Ketika tertulis keadaannya sudah mau mati
Diriku seorang diri
Seperti bertemu cermin
Ku sebut ini kanan, cermin itu berucap kiri
Selelahnya desah nafasku menghembus
Kanan yang ku sebut tetap dia anggap kiri

Ya, diriku hanya mencumbu cermin
Ketika kebenaran terus berucap
Mata sakit ini ada di bagian kiri!
Telinga yang teriris ini ada di kanan!
Kenapa kau tak tunjukkan saja!

Entahlah” Katanya

Berapapun frasa yang terbuang
Tak mampu membantah pernyataan yang ku sebut “Sia-sia”
Ialah semaunya lahir dari kumpulan kegagalan
Walau begitu, cermin masih mengucap ketidak benaran
Sampai bayang-bayang pun marah

Batu kecil yang tadi kulempar
Bertengger di permukaan cermin
Pecahlah ia, berserakan!
Tapi masih saja begitu, yang kanan disebutnya kiri
Diriku memang tak memahami

Tapi hanya dengan menatap cermin
Jawaban siapa diriku sebenarnya
Bisa ku temukan
 “Mengharukan….Aku suka ceritamu, tapi kau masih perlu belajar”
Kataku pada penyair muda tersebut, lalu berniat pergi
“cermin itu bagiku adalah teman hidup satu-satunya, takkan berhenti menatapnya”

Lalu ku biarkan diriku menghilang di garis mata penyair itu
Pergi bersama hembusan debu padang pasir    



Tidak ada komentar:

Posting Komentar