Ketika tertulis keadaannya
sudah mau mati
Diriku seorang diri
Seperti bertemu cermin
Ku sebut ini kanan, cermin
itu berucap kiri
Selelahnya desah nafasku
menghembus
Kanan yang ku sebut tetap
dia anggap kiri
Ya, diriku hanya mencumbu
cermin
Ketika kebenaran terus
berucap
“Mata
sakit ini ada di bagian kiri!
Telinga yang teriris ini ada di kanan!
Kenapa kau tak tunjukkan saja! ”
“Entahlah” Katanya
Berapapun frasa yang
terbuang
Tak mampu membantah
pernyataan yang ku sebut “Sia-sia”
Ialah semaunya lahir dari
kumpulan kegagalan
Walau begitu, cermin masih
mengucap ketidak benaran
Sampai bayang-bayang pun
marah
Batu kecil yang tadi
kulempar
Bertengger di permukaan
cermin
Pecahlah ia, berserakan!
Tapi masih saja begitu,
yang kanan disebutnya kiri
Diriku memang tak memahami
Tapi hanya dengan menatap
cermin
Jawaban siapa diriku
sebenarnya
Bisa ku temukan
“Mengharukan….Aku suka ceritamu, tapi kau
masih perlu belajar”
Kataku pada penyair muda
tersebut, lalu berniat pergi
“cermin itu bagiku adalah
teman hidup satu-satunya, takkan berhenti menatapnya”
Lalu ku biarkan diriku
menghilang di garis mata penyair itu
Pergi bersama hembusan
debu padang pasir

Tidak ada komentar:
Posting Komentar