“Kalau seperti itu persyaratannya, lebih baik aku menjadi temanmu saja, dari pada mengubah diriku artinya kau memilki kekasih yang bukan diriku kecuali orang lain yang bertengger di jasadku”
Kuolah kata-kataku sematang mungkin sebelum kita bertemu di tempat itu, tempat yang telah kita sepakati sebagai remaja berbunga cinta. Aku hanya sedikit bingung dengan sikapmu, ternyata kau tak menerima diriku apa adanya, syarat bodoh macam apa yang kau berikan itu? Sungguh tak ada jalan keluar yang bisa ku buat atau, aku tak usah memenuhi syarat itu? Tapi…hatiku sangat menginginkanmu, Hhh entahlah aku bingung. Saat ini, rasanya otakku berputar kencang seperti roda mobil balap, kalau mau lebih ku perjelas lagi, mungkin sejenis Ferrari, setidaknya begitu.
Tiba-tiba tersadarlah lamunan ini. Alarm jam di sisi meja belajarku begitu menghantam jantung, walau tak sampai copot tapi sangat mengganggu ketenanganku. Kuambil jam kecil itu, warnanya sudah buram. Seharusnya dari dulu kubuang saja, Tapi..oh sudah jam tiga ternyata dan jam bodoh ini bebas dari mautnya setidaknya sampai aku pulang karena, mau tak mau aku harus menemui dia.
Dan seiring waktu, sampailah aku di suatu tempat yang sejuk. Tampak dari jauh seorang wanita duduk pada sebuah kursi panjang. Jilbab putihnya membuat bentuk rupanya semakin anggun dan baju hijau lengan panjang bermotif bunga tulips itu membuatnya serasi dengan rok hitam yang dikenakannya. Tuhan dia begitu indah dan selalu begitu, ku sebut dia “Angel”.
Dia layaknya malaikat yang turun sehabis hujan beberapa jam tadi, apalagi dari tempat itu terlihat pelangi yang berpotongan dengan bumi, semakin memperjelas suasana sore dengan air sungai yang tampak berkilauan bak leburan matahari. Dilihat dari keadaannya sepertinya sudah lama dia menungguku.
Tanpa buang waktu, kakiku berkayuh dalam satuan langkah demi langkah sampai akhirnya terduduk di samping Angel, ku tatap wajahnya yang halus bagai sutra itu. Tuhanku sanggupkah aku mengatakan ini?
“Bagaimana keputusanmu, kau bisa memenuhi syarat itu kan?” katanya tiba-tiba membuka percakapan dengan muka sedih.
“Kamu sakit?” Kataku cemas.
“Tidak! Jawab saja pertanyaanku, aku akan menerimamu asal kau ubah sikapmu itu!”
“Sebetulnya kau kenapa?! Bisakah kita...!”
“Jawab saja! Aku tak punya banyak waktu, kalau kau cinta, kau pasti bisa kan?!” Tegasnya memotong perkataanku.
“Hhh aku tidak mampu, karena..…”
Kuhentikan perkataanku sembari menorah muka pada wajahnya. Tuhan apa yang ada di otakku ini, kenapa ku bilang begitu? Terlihat raut wajahnya sangat sedih. Tidak, aku tak sanggup melihat raut sedihnya, tapi kalau dia juga merasakan yang sama kenapa harus pakai persyaratan? Angel apa maksud semua ini? Hatiku berderu sangat kencang, ditambah keadaan yang semakin menguasai ketika air mata pertamanya jatuh mengalir. Naluri sebagai seorang lelaki muncul saat itu, kurangkul tubuhnya penuh kasih. Ditatapnya wajahku sedalam-dalamnya.
“Ku lakukan itu karena…. aku selalu cemburu ketika banyak perempuan yang mendekatimu, …..maksudku sifatmu itu disukai banyak perempuan, maksudku…hhhh”
Wajahnya hanya tertunduk lemah di pelukanku.
“Bagaimana?” tanyanya singkat..
Tak sempat ku jawab, sebuah mobil hitam berhenti di dekat kami. Keluarlah tiga orang pria menarik Angel dari pelukanku lalu mendorongnya masuk ke dalam mobil. Rasanya bagai dihantam martil yang sangat besar dengan keadaan yang tiba-tiba seperti itu. Bahkan tak sempat kutanyakan perihalnya seorang diantara mereka mendorongku sampai terjatuh, lalu sebuah kepalan tinju mendarat di pelipisku. Tampak di balik kaca mobil Angel hanya bisa menangis menatapku. Belum puas samapi di situ, orang yang tadi dengan geram menarik kerah bajuku, di angkatnya kepalaku sampai tepat di depan matanya.
“Jangan coba dekati Anakku! Kau tak sepadan dengan kami! Kau takkan bisa menghidupinya!” Makinya padaku lalu beranjak pergi.
Tak selang lima menit, tempat itu menjadi hening seiring berlalunya mobil hitam tadi. Diriku bagai patung saja, tak tau mau digerakkan bagaimana tubuh ini. Dan sejak saat itu aku tak pernah bertemu dengan Angel lagi. Semua yang akan ku katakan kini tinggal jawaban usang yang terpendam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar