Selasa, 13 Maret 2012

Senja Di Bukit Kosong

          Ku lihat Adam terdiam sembari menatap matahari yang perlahan terbenam di Bukit Kosong, Di tengadahkan dagunya menikmati siraman cahaya sore, awan merah di langit sana seakan memberinya perintah untuk beranjak dari tempat itu namun silau pantulan cahaya pada air laut merasa Adam akan terus menatapnya. Mata indah yang tergambar membuat laut berwarna emas, meneduhkan lamunan. “Tempat ini selalu indah, saat aku masih duduk bersamanya menyongsong harapan cinta, atau saat aku mulai kesal terhadapnya dan menumpahkan semuanya di sini, Huh….” Begitulah kata-kata yang berputar di kepalanya. Tapi kali ini dia sendirian tanpa seseorang yang selalu menemani lamunannya. 
    Raut wajahnya berubah sedih, matanya nanar membayangkan saat-saat ia hamper mencium mulut wanita itu, di tempat itu, dan senja yang sama pada waktu itu. Sudah dua kali ia melakukannya dan kini hanya tinggal catatan senja saja. Terbayang lagi desah nafasnya yang begitu dekat, jarak antara kedua matanya hanya dua senti saja “Ah..Aku lelaki yang bodoh” begitu lagi pikir Adam. “Tapi aku menantimu, tak peduli seberapa perih, aku selalu luluh dengan tatap matamu”. Baru aku sadar ternyata Adam duduk lagi di tempat itu untuk meluapkan sakit hati dan kekesalannya.
    Separuh sore telah Adam lewatkan di tempat itu, untuk menenangkan hatinya. Wajahnya sewarna putih tulang. Lalu ia berdiri di ujung bukit kosong itu, ditatapnya lirih ke dasar sana, Nampak olehnya duri dan batu besar seakan tersenyum menanti kehadirannya di sana. “Hhh ….Aku sangat ingin bersamamu, Selalu”. Lalu di kosongkannya segala keluh di pikirannya, matanya tertutup sepenuh jiwa dan raga, hatinya seakan melayang dan ia siap untuk pergi demi kebahagiaan wanita yang dikasihinya.
   “Adam!” teriak seorang wanita yang terengah menghampirinya, “Adam kekasihmu, sakit!” lalu pucat wajah Adam mendidih menjadi merah, perasaannya dihantui rasa takut. Ia mengurungkan niatnya lalu beranjak dari bukit kosong itu, pergi secepatnya dari kegelapan yang membutakan nirwana hatinya “aku tak mau pergi meninggalkanmu, maaf” matanya basah merasakan segala luapan di hatinya. Lalu Bukit Kosong itu menjadi sunyi lagi seperti bisaa, “Hhh” dan Aku yang yang sejak tadi memperhatikan tingkahnya, memutuskan kembali ke langit, “Ia belum siap untuk mati”…




(Hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan  tokoh, tempat dan waktu  maka itu hanyalah kebetulan)






                                                                    DEDICATED FOR ALHYM MY BEST FRIEND

1 komentar: